Di balik hijaunya hamparan Jawa Barat, tersimpan kisah panjang tentang tanah yang lelah, air yang meluap, dan harapan yang kembali tumbuh.


Ini adalah cerita tentang bagaimana investasi hijau mengubah lahan kritis menjadi ekosistem yang hidup.

Jawa Barat adalah surga. Gunung menjulang. Sungai mengalir. Hamparan hijau membentang.

Setiap akhir pekan, ribuan orang datang ke sana, mencari udara segar atau pemandangan yang menenangkan.

Namun, di balik keindahan itu, ada yang tak terlihat.

Tanah Pasundan tengah menjerit ...

Jawa Barat menjadi salah satu dari 5 provinsi di Indonesia dengan kasus bencana alam tertinggi.

Banjir, tanah longsor, dan kekeringan bukan lagi fenomena musiman—melainkan rutinitas yang terus mengancam.

Jumlah kejadian per tanggal 9 Agustus 2025 tercatat sebanyak 2.139 kejadian.

Kejadian bencana alam mendominasi adalah bencana hidrometeorologi 99,25% dan bencana geologi 0,75% dengan urutan bencana banjir, cuaca ekstrem, karhutla, tanah longsor dan erupsi gunung api.

Dampak Kerusakan Akibat Bencana Alam Tahun 2025

Sumber: Geoportal Data Bencana Indonesia BNPB - Rangkuman Bencana Tahun 2025

Menurut Dinas Kehutanan Jawa Barat dalam wawancara tertulis dengan Kompas.com, Selasa (25/11/2025), peningkatan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor di Jawa Barat, bukanlah fenomena kebetulan.

Hal ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu kondisi geografis dan demografis Provinsi Jawa Barat yang memang rawan bencana. Selain itu, meluasnya lahan kritis juga menjadi penyebab signifikan yang memicu penurunan daya dukung serta daya tampung air.

Ketika vegetasi penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) menghilang, daya serap tanah terhadap air hujan akan berkurang drastis. Akibatnya, air hujan dengan cepat berubah menjadi limpasan permukaan yang akhirnya memperbesar risiko terjadinya banjir dan tanah longsor

Lahan kritis adalah lahan yang tanahnya telah kehilangan fungsi, seperti tidak mampu menyerap air, menumbuhkan vegetasi, atau menahan longsor.

Di Jawa Barat, kondisi tersebut mengkhawatirkan. Lebih dari 829.556 Ha lahan di sana tergolong kritis, sedangkan yang direhabilitasi baru 52.746 Ha.

Sumber: Data Singmanfaat Dinas Kehutanan Jawa Barat

Dinas Kehutanan Jawa Barat menjelaskan, Jawa Barat termasuk provinsi dengan beban lahan kritis tertinggi di Indonesia.
Ini disebabkan berbagai faktor, seperti tekanan penduduk, laju alih fungsi lahan, serta topografi Jawa Barat yang didominasi lereng curam.

Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan anggaran. Luasnya lahan kritis di Jabar membuat kegiatan rehabilitasi tidak bisa hanya bergantung pada APBD/APBN.

Sejatinya, Pemprov Jabar telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 40/KH.05.06/PEREK tentang Gerakan Leuweung Hejo untuk Pelestarian Hutan dan Lingkungan. Edaran ini mengajak seluruh elemen masyarakat utnuk melakukan upaya pemulihan lahan kritis secara terpadu dan berkelanjutan.

Gerakan ini terbukti cukup efektif, tetapi belum optimal dalam pelaksanaannya. Karena itu, Dishut Jabar mendorong peran pihak swasta dalam merehabilitasi lahan kritis. Penanganan masalah tersebut tidak cukup hanya melalui pendanaan CSR/TJSL, tetapi mengubah program rehabilitasi hutan dan lahan menjadi green investment berbasis karbon.

Lalu, apa yang bisa dilakukan

“Penanaman pohon merupakan infrastruktur hijau untuk pengurangan resiko bencana dan mitigasi perubahan iklim. Vegetasi dengan tutupan optimal mampu mengurangi limpasan dan meningkatkan infiltrasi air hujan.

Dokumen Rencana Kerja FOLU Net Sink Provinsi Jawa Barat Tahun 2030 mengacu pada standar Measurement, Reporting, and Verification (MRV) Carbon Project dan menetapkan potensi serapan karbon untuk vegetasi sekitar 5-15 ton CO2eq per hektare per tahun.

Dengan kata lain, penanaman pohon tidak hanya cocok untuk rehabilitasi lahan kritis, tetapi juga dapat menjadi penyerap karbon masa depan dalam skema Net Zero Emission (NZE) Indonesia.”

Dinas Kehutanan Jawa Barat

Manfaatnya tidak berhenti di situ

Pohon juga punya nilai ekonomis melalui sistem agroforestri.
Pola tanam cerdas ini memadukan pohon pelindung dan konservasi (seperti damar dan suren) dengan tanaman produktif (seperti kopi, alpukat, atau cengkih) di lahan yang sama.


Misalnya, di sela-sela pohon hutan, petani dapat menanam komoditas bernilai jual, seperti kopi, alpukat, atau cengkih. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjaga kelestarian, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harusmenebang pohon.

Ketua Jangkar Ecovillage Edi Rahayu menjelaskan, pendekatan agroforestri mendorong petani lokal untuk beralih dari pola tanam sayuran jangka pendek menuju komoditas pohon keras yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Menurutnya, harga jual hasil agroforestri, seperti alpukat dan kopi, lebih tinggi dan stabil ketimbang sayuran.
Meski demikian, agroforestri juga memiliki tantangan.
Salah satunya, proses penanaman bibit hingga masa panen membutuhkan proses yang lebih lama ketimbang sayuran.

Menariknya, sistem agroforestri membuat petani tidak perlu mengorbankan lahan sayurnya.


Dengan pola ini, petani tetap bisa menanam sayur sambil mengasuh pohon buah dan tanaman hutan. Ketika nanti pohon sudah masuk masa berbuah, mereka bisa mendapatkan hasil panen yang lebih besar ketimbang tanaman sayur.

Rehabilitasi lahan kritis bukan sekadar menanam pohon, melainkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan pemulihan ekologi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Masalah sebesar ini tak bisa ditangani hanya dengan keluhan. Dibutuhkan keberanian untuk berinvestasi pada solusi hijau dan pelaku yang tidak sekadar berkomitmen, tetapi bertindak nyata.

Di sinilah PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI hadir sebagai "investor hijau" yang memilih jalan berbeda, yakni menanam harapan di tanah yang rapuh.

PT SMI merupakan Badan Usaha Milik Negara di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang fokus pada pembiayaan infrastruktur berkelanjutan.

Menuju Karbon Netral 2028

PT SMI menyadari, kegiatan operasional bisnis perseroan pada 2023 menimbulkan emisi karbon sebesar 1.910,60 ton CO2 ekuivalen dan telah diverifikasi oleh TUV Rheinland Indonesia.

Maka dari itu, perseroan mendeklarasikan target ambisius, yakni Menjadi Perusahaan Karbon Netral Penuh (Carbon Neutral) pada 2028. Target tersebut diwujudkan dengan mengompensasi emisi karbon yang timbul di berbagai scope sejak 2024.

Scope 1

Mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan (misalnya, pembakaran bahan bakar di pabrik atau kendaraan).

Scope 2

Emisi tidak langsung dari energi yang dibeli perusahaan (listrik, panas, atau pendingin).

Scope 3

Semua emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai perusahaan, seperti dari rantai pasokan, transportasi, perjalanan bisnis, dan pembuangan limbah.

Kompensasi emisi karbon PT SMI lakukan melalui beberapa strategi kunci, di antaranya dijalankan di bawah payung Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) korporasi.

  • Penanaman Tumbuhan di Lahan Kritis
  • Penanaman Mangrove di Kawasan Pesisir
  • Pemberian Fasilitas Efisiensi Energi
  • Pembangunan Infrastruktur Energi Terbarukan di Fasilitas Sosial

Rincian Penanaman Pohon Inisiatif

Pembibitan

Jumlah bibit total: 35.100 batang (sudah termasuk cadangan untuk penyulaman P1 = 20 persen dan P2 = 10 persen)

Jenis bibit disesuaikan dengan kondisi biofisik (kontur, topografi, kesesuaian lahan) dan kebutuhan masyarakat

Persiapan Lahan

Pembersihan gulma/semak belukar

Pembuatan lubang tanam standar (±40x40x40 cm)

Pemasangan ajir (penopang batang) untuk menjamin tegaknya bibit

Pembuatan piringan tanaman agar bersih dari gulma

Penanaman (P0 / Tahun Berjalan)

Dilaksanakan pada musim hujan (Januari 2025) agar bibit tidak kekeringan

Menggunakan pola agroforestri dengan jarak tanam 5x5 m (±400 bibit/ha)

Setiap lubang tanam diberi pupuk dasar (organik, dolomit, dan nematisida)

Pemeliharaan (P1 dan P2)*

Penyulaman: 20 pertama (tahun pertama), 10 pertama (tahun kedua)
Pemupukan rutin dengan pupuk organik dan NPK

Penyiangan dan pendangiran untuk menjaga porositas tanah

Pengendalian hama & penyakit (manual maupun kimiawi bila perlu)

Monitoring dan Evaluasi (Monev)

Dilakukan dengan systematic sampling with random start pada plot 40x25 meter

Intensitas sampling 5 persen (setiap plot mewakili ±2 ha)

Hasil monitoring: tingkat keberhasilan tumbuh rata-rata 82,07 persen, melebihi standar minimal 75 persen menurut Permen LHK Nomor 23/2021

* P1 merujuk tahun pertama setelah P0. Fokusnya adalah penyulaman (penggantian bibit yang mati), pemupukan rutin, penyiangan gulma, dan pengendalian hama. Fase ini krusial karena tingkat kematian bibit (mortalitas) paling tinggi terjadi di tahun pertama.

* P2 merujuk tahun kedua setelah P0. Kegiatan sama dengan P1 tetapi dengan intensitas penyulaman yang lebih rendah (misalnya 10 persen). Fase ini memastikan tanaman melewati masa kritis pertumbuhannya dan mulai bisa mandiri.

Roadmap

Pemeliharan
Multitahun

Investasi hijau PT SMI bukan sekadar angka atau peta proyek. Ia tumbuh, berakar, dan memberi dampak nyata ke berbagai aspek.

Pemulihan Ekosistem

Tutupan vegetasi meningkat Biodiversitas pulih Fungsi hidrologis kembali normal Resapan air naik signifikan

Pengurangan Risiko Bencana

Program ini secara langsung mengurangi risiko banjir dan longsor dengan memperkuat struktur tanah. Penanaman pohon di tebing dan hulu sungai meningkatkan fungsi konservasi air sehingga menekan dampak bencana ekologis yang sebelumnya kerap terjadi di Jawa Barat.

Keberhasilan Terukur

82,07% survival rate (melampaui standar 75% Permen LHK) 41,85 hektare lahan kritis direhabilitasi

Agroforestri membantu mencegah masyarakat merambah kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan lahan KTH. Petani diarahkan memaksimalkan lahan yang sah tanpa melewati batas kawasan konservasi.

Produktivitas dan Pendapatan

PT SMI menerapkan sistem agroforestri dalam penanaman yang dilakukan. Metode ini memadukan jenis pohon dengan tanaman produktif di satu lahan yang sama.

Selain memberikan manfaat lingkungan, penerapan sistem agroforestri juga menciptakan nilai ekonomi dari hasil panen tanaman produktif di sela pohon kayu. Ini menjadi sumber penghidupan alternatif yang berkelanjutan.

Lapangan kerja lokal:
pembibitan, penanaman, pemeliharaan

Diversifikasi sumber income petani

Ketahanan ekonomi keluarga meningkat

Produktivitas lahan naik tanpa merusak ekologi

Pendampingan yang dilakukan berhasil membuat petani di Cihawuk memaksimalkan potensi di wilayahnya, terutama tanaman kopi yang banyak ditanam di tiga kecamatan tersebut.

Sebelumnya, petani hanya menjual kopi dalam bentuk ceri gelondongan seharga Rp 12.000
hingga Rp 15.000 per kilogram.


Melalui pelatihan yang diberikan, kini mereka mampu mengolah kopi menjadi green bean.
Selisih harganya jauh.

Dulu mereka petani menjual kopi Rp 15.000.
Sekarang, mereka bisa menjual green bean Rp 110.000.

Selain itu, mereka juga sudah bisa melakukan roasting serta memproduksi kopi siap seduh. Harapannya, mereka dapat mengembangkan semangat wirausaha untuk memiliki produk, kemasan, serta pemasarannya sendiri.

Pemberdayaan Masyarakat Partisipasi Aktif:

150+ keluarga petani terlibat aktif 5 Kelompok Tani di 3 Kabupaten (Bandung, Cianjur, Bogor) Pelatihan agroforestri dan pengelolaan lahan berkelanjutan

Mitra Strategis:

Program ini didampingi oleh Jangkar Ecovillage dan Dinas Kehutanan Jawa Barat, memastikan transfer pengetahuan dan pendampingan teknis berjalan optimal.

Pemberdayaan Jangka Panjang:

Kelompok tani lokal tidak hanya terlibat dalam penanaman, tetapi juga dalam pemeliharaan dan pengelolaan lahan. Melalui program ini, kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan lingkungan meningkat, menciptakan kemandirian dalam menjaga keberlanjutan program.

Keterampilan Entrepreneurship:

Dampak sosial juga diperkuat dengan pelatihan berkelanjutan untuk Kelompok Tani, seperti literasi keuangan, teknik budi daya, dan strategi pengemasan (packaging) produk hutan.

Mitigasi Perubahan Iklim

27.000 pohon ditanam

≈ 567 ton CO₂ per tahun diserap

Mendukung target Net Zero Emission 2060 Indonesia.

Kontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs):

Program ini menjadi salah satu strategi konkret PT SMI dalam roadmap dekarbonisasi, mempercepat transisi menuju energi bersih dan pengurangan jejak karbon.

Selain aspek ekonomi, PT SMI, Jangkar Ecovillage,
dan Dinas Kehutanan Jawa Barat juga melakukan penghitungan karbon sejak program dimulai. Penghitungan dilakukan bersama konsultan profesional.

Metodologinya mencakup survei pohon, sensus lapangan, pengukuran diameter batang, tinggi tajuk, kerapatan, hingga vegetasi bawah.

Nantinya, hasil lapangan kami akan dikirim ke konsultan untuk dihitung. Harapannya, setelah tiga tahun nanti, penyerapan karbon meningkat signifikan.

Pradana Murti, Direktur Manajemen Risiko PT SMI

Dari tanah yang dulu gersang dan rapuh, kini tumbuh kehidupan baru.

Ribuan bibit yang ditanam bukan sekadar pohon, melainkan simbol harapan. Setiap helai daun yang tumbuh menyimpan janji untuk udara yang lebih bersih, tanah yang lebih kokoh, dan masa depan yang lebih aman bagi generasi mendatang.

Program rehabilitasi lahan kritis PT SMI adalah bukti bahwa infrastruktur hijau bukan sekadar konsep, melainkan tindakan nyata.

Inilah implementasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang melahirkan warisan hijau melalui kolaborasi lintas sektor.

Menurut Dinas Kehutanan Jawa Barat, keberhasilan monitoring program PT SMI yang mencapai 82,07 persen menjadi bukti bahwa rehabilitasi lahan dapat berhasil bila dikelola secara ilmiah, didukung data spasial, pendampingan lapangan, serta monev yang konsisten.

Capaian ini menunjukkan bahwa pemulihan lahan kritis bisa dijalankan dengan perencanaan tapak yang jelas, jenis pohon yang tepat, kolaborasi pemerintah–swasta–masyarakat, serta mekanisme evaluasi berbasis data.

Selain itu, tingkat keberhasilan penanaman juga menjadi fondasi bagi lahirnya program netral karbon, yang mana setiap hektare yang berhasil tumbuh berpotensi menyerap 5–15 ton CO₂eq per tahun, memperbaiki fungsi DAS, dan mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030 serta Net Zero Emission Indonesia.

Dengan model ini, rehabilitasi tidak sekadar kegiatan sosial atau proyek tahunan, tetapi mulai bergerak menjadi bagian dari ekonomi hijau Jawa Barat dengan nilai ekologis yang dapat diukur dan nilai ekonomi yang bisa dikembangkan.

Pada akhirnya, menjaga dan menghijaukan Bumi Pasundan adalah warisan terbaik yang bisa kita titipkan untuk anak cucu.

Masa depan bukan hanya untuk kita nikmati hari ini, melainkan untuk
mereka yang akan melanjutkan langkah kita di esok hari.

Melalui langkah-langkah nyata, kita semua memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak hijau yang akan bertumbuh dan melindungi bumi yang kita cintai.

Lebih dari itu, apa yang dilakukan PT SMI menjadi kontribusi nyata bagi ketahanan lingkungan bangsa sekaligus bagian penting dari perjuangan global menuju masa depan berkelanjutan.