This content is only visible and rotated in tablet lanscape mode.
Benteng Masa Depan
Hadapi Krisis Iklim
Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa di Provinsi Riau.
Ironisnya, kawasan yang disebut "lumbung kelapa nasional" itu justru terancam hancur akibat abrasi.
Padahal, mangrove adalah pelindung alami yang seharusnya menjaga daratan dari amukan laut.
Asmarita, seorang warga Desa Kuala Selat, Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi saksi hidup bagaimana perkebunan kelapa yang dulu menjadi sumber penghidupannya, hilang tersapu abrasi akibat lenyapnya tutupan mangrove.
"(Perkebunan) kelapa habis, tanaman kecil habis. Membiayai anak sekolah sekarang sulit, tidak seperti dulu."
Bencana ekologis yang terjadi pada 2021 menghancurkan 1.740 hektare (ha) kebun kelapa warga, termasuk milik Asmarita. Padahal sebelum rusak, petani bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 juta per 3 bulan panen.
Kehilangan itu membuat banyak warga terpaksa beralih menjadi nelayan tangkap, meninggalkan sejarah panjang kejayaan kelapa di Indragiri Hilir.
Negeri Mangrove
Indonesia sejatinya memiliki luas hutan mangrove terluas di dunia yang mencapai 3,4 juta ha.
Kisah pilu seperti di Desa Kuala Selat tidak hanya terjadi di Riau.
Dari Aceh hingga Papua, abrasi, intrusi air laut, dan alih fungsi lahan terus merenggut benteng alami yang diwariskan alam.
Potensi yang seharusnya menjadi anugerah itu berubah menjadi bencana.
Sejatinya, Indonesia memiliki lahan yang sangat potensial untuk dijadikan habitat mangrove ataupun direhabilitasi sebagai ekosistem mangrove.
Namun, di banyak daerah,
lahan mangrove beralih fungsi
menjadi tambak udang dan ikan.
Memang, bagi keluarga yang ditinggal di pesisir,
tambak adalah harapan dan tumpuan ekonomi.
Sayangnya, tanpa sadar, mereka justru menukar
perlindungan jangka panjang dengan keuntungan sesaat.
Bachtiar, petambak dari Desa Liagu, Kalimantan Utara, adalah salah satu pelaku sekaligus saksi.
Secara turun-temurun, keluarganya membuka hutan mangrove untuk dijadikan lahan tambak.
Pada dua dekade pertama, tambak menjadi ladang emas bagi keluarganya karena hasil yang melimpah.
Seiring waktu berjalan. produktivitas menurun drastis.
Tak menyerah, Bachtiar mencari cara agar tambaknya kembali produktif.
Secara mandiri, selama 14 tahun, ia melakukan penanaman mangrove pada areal pelataran tambak.
Hasilnya nyata, tambak kembali subur, panen meningkat, kualitas produk lebih baik.
Mangrove yang ditanam menjadi rumah alami bagi ikan, udang, dan kepiting.
Kini, udang dan kepiting yang dihasilkan pun menjadi produk organik bernilai tinggi.
Bagi masyarakat pesisir,
mangrove ibarat asuransi hidup.
Akar yang menjalar menahan lumpur dan pasir agar tanah tidak mudah tergerus.
Daun-daunnya menjadi serasah yang memperkaya nutrisi laut.
Cabang dan batangnya menjadi habitat burung.
Tanpa mangrove, laut menjadi ganas dan daratan kehilangan pelindung.
Deforestasi ekosistem mangrove yang masif terjadi sejak 1980-an
juga dipicu oleh pemanfaatannya sebagai
bahan baku arang dan material bangunan.
Sains menegaskan apa yang dirasakan masyarakat.
Mangrove bukan sekadar pepohonan di tepi laut.
Tumbuhan ini adalah ekosistem luar biasa dengan fungsi
ekologis, ekonomi, dan sosial.
Ketika mangrove rusak, karbon yang tersimpan justru dilepaskan ke atmosfer.
Kerusakan mangrove global melepaskan sekitar
0,2 gigaton karbon dioksida (CO2) per tahun.
Angka ini berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.
Bagi nelayan yang tinggal di pesisir, dampaknya nyata.
Badai akan datang lebih sering, bahkan rumah mereka bisa hilang dalam semalam.
Krisis iklim bukan ancaman abstrak. Fenomena ini nyata, mengetuk pintu rumah nelayan.
Dan mangrove adalah garis pertahanan pertama.
Jika benteng ini runtuh, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, melainkan juga ekonomi dan sosial masyarakat.
Di level global, dunia telah lama sadar akan bahaya perubahan iklim.
Perhatian dunia terhadap perubahan iklim mulai terwujud dalam berbagai kesepakatan internasional.
Pada 2024, pemerintah memperkuat komitmennya dalam menghadapi perubahan iklim melalui Enhanced Nationally Determined Contribution atau Enhanced NDC (ENDC).
Dokumen itu sejalan dengan strategi FOLU Net Sink 2030 yang menargetkan sektor kehutanan dan lahan menjadi penyerap karbon bersih pada 2030.
Dalam ENDC terbaru, target penurunan emisi ditingkatkan menjadi 31,89 persen dengan usaha sendiri serta hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional.
Pemerintah juga meluncurkan strategi nasional rehabilitasi mangrove melalui
Peraturan Remerintah Nomor 26 Tahun 2020 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan
Memulihkan
Menanam kembali mangrove di lahan kritis
Meningkatkan
Memperkuat ekosistem yang ada dengan manajemen berbasis masyarakat
Mempertahankan
Mencegah kerusakan baru lewat regulasi dan pengawasan
Rehabilitasi bukan pekerjaan mudah. Mangrove tidak bisa ditanam sembarangan. Dibutuhkan pemetaan hidrologi, pemilihan jenis tepat, bahkan keterlibatan masyarakat. Jika tidak, bibit akan mati sia-sia.
Untuk mempercepat upaya itu,
pemerintah juga meluncurkan program
Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
Ini merupakan program kolaborasi lintas sektor.
Dengan kolaborasi itu, M4CR menargetkan rehabilitasi 41.000 ha mangrove di empat provinsi prioritas.
M4CR bukan sekadar program tanam pohon. Ada pendekatan ekonomi di baliknya.
Masyarakat diberi pelatihan sekolah lapang, hibah usaha, dan dukungan pengembangan ekowisata.
Tujuannya jelas, ekologi pulih, ekonomi tumbuh.
Hingga 2027, sebanyak
238 desa
menjadi target
sasaran program
M4CR
Dengan rehabilitasi,
ribuan rumah kembali terlindungi.
Ribuan nelayan mendapat kembali sumber penghidupan.
Anak-anak pun bisa kembali main dengan aman di pesisir.
Pola Penanaman Mangrove
Di lapangan, tim M4CR menerapkan beragam pola tanam sesuai kondisi kawasan.
Program M4CR menjadi salah satu penegasan
bahwa mangrove bukan sekadar pepohonan di tepi laut.
Tanaman ini adalah aset bangsa sekaligus solusi iklim yang nyata.
Lebih dari sekadar benteng alami, mangrove menghadirkan kepastian
bahwa generasi mendatang tetap memiliki ruang hidup yang aman.
Ekonomi lokal bertumbuh lewat usaha berbasis masyarakat.
Di sisi lain, laut dan daratan menemukan keseimbangannya kembali.
Harapan itu kini nyata—bahwa dengan menjaga mangrove,
Indonesia sedang menjaga masa depan.
Kelak, tidak ada lagi masyarakat pesisir yang merana lantaran mangrove
tumbuh subur sebagai harapan hijau pesisir Nusantara.
Di sisi lain, laut dan daratan menemukan kembali keseimbangannya.
Penanggung Jawab
- Yohanes Enggar Harususilo
Produser
- Aningtias Jatmika
Penulis
- Aningtias Jatmika
Storyboard
- Aningtias Jatmika
Editor
- Sri Noviyanti
Creative & Graphic Designer
- Astari Dhia Nafianda
- Syifa Asky Fitaya
UI Engineer
- Yusuf Iskandar
Animation and Transition
- Robiyansyah
- Yusuf Iskandar